Lada Simbol Nasionalis Rakyat Rusia Terhadap Negaranya

- 22 Mei 2020, 06:35 WIB
Lada 2101. Foto Sputnik

PORTALSURABAYA.com – Keruntuhan Uni Soviet menjadi alasan akhirnya warga Rusia bisa menikmati mobil asing. Namun demikian, hampir selama 30 tahun pasca keruntuhan Uni Soviet ternyata masih banyak warga negara Rusia yang masih setia dengan mobil nasional era Uni Soviet, apalagi kalau bukan Lada.

Lada sendiri adalah sebuah mobil hasil kerjasama antara para insinyur Soviet dengan perancang mobil Italia, Fiat. Lada pertama diluncurkan pada tahun 1970 di Tolyatti, sebuah kota industri di pinggiran Uni Soviet dengan produk pertamanya yang diberi nama Lada 2101 yang legendaris.

Mobil ini tidak hanya menuai sukses di Uni Soviet, tetap juga di luar negeri. Setelah itu, beberapa model lainnya bermunculan mengikuti jejak kesuksesan Lada 2101.

Ketika pada tahun 1991 dimana pada masa itu sebuah sejarah baru era keruntuhan Uni Soviet, pasar mobil Internasional di negara buruang merah tersebut terbuka lebar bagi masyarakat, untuk mencicipi mobil asal luar negeri untuk pertama kalinya.

Mulailah masyarakat Rusia yang setelah sekian lama menutup diri terhadap produk kendaraan asing, mulai bisa menikmati beragam kendaraan merek asing tersebut.

Namun masalah mulai timbul dibenak masyarakat Rusia. Mobil tua yang dibuat era Uni Soviet tersebut dengan sejumlah model Lada yang terbaru, membangkitkan perasaan campur aduk di benak masyarakat.

Beberapa orang merasa, mobil Lada semacam sinonim dari barang rongsokan era Uni Soviet, sementara di sisi lain masih banyak masyarakat yang percaya, Lada adalah mobil terbaik di dunia.

Meski Uni Soviet sudah runtuh, tapi Lada tetap ada dan saat ini sudah dianggap sebagai merek Rusia. Namun demikian tidak sedikit yang mencibir tentan mobil Lada ini, bahkan orang Rusia sendiri menyebut mobil ini dengan sebutan “ember karat”.

Namun tidak bisa dipungkiri, meski banyak menuai cibiran Lada adalah produk baru dari Lada terjual di Rusia daripada merek asing manapun yang beredar di Rusia saat ini.

Halaman:

Editor: Argo Santoso


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X