Mantan Penyanyi Cilik Tasya, Ungkap Pentingnya Pendidikan di Diskusi SATU Indonesia Award 2020

- 4 Juni 2020, 15:38 WIB
Foto : Dok Astra

PORTALSURABAYA.com – Mengangkat tema ‘Pendidikan Kunci Peradaban’, penyanyi Tasya Kamila dan penerima SATU Indonesia Award 2019, menggelar diskusi nasional yang digelar secara online pada Senin (1/6).

Di inisiasi oleh Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Award 2020, diskusi ini diharapkan bisa men jadi inspirasi sekaligus menjaring anak muda di seluruh pelosok Indonesia untuk berkontribusi bagi daerah sekitarnya.

Salah satu penerima SATU Indonesia Award 2019 Ai Nurhidayat yang terkenal lewat karyanya di SATU Indonesia Award 2019 yaitu ‘Penjaga Toleransi Multikultural’ berbagi kisah tentang dunia pendidikan dari pengalamannya, sedangkan Tasya bercerita tentang pentingnya menempuh pendidikan.

Menurut Tasya, popularitas dan kesuksesan di dunia hiburan terkadang membuat banyak selebritas lebih memilih profesinya dibanding dengan pendidikan mereka sendiri.

Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk Tasya. Penyanyi yang sudah terjun ke dunia musik sejak usia tujuh tahun ini pun rela meninggalkan Indonesia demi kuliah di negeri orang.

“Dari usia muda, saya sudah merasakan sukses. Tapi, saya tidak mau berada di situ saja. Saya mau berkembang dan salah satunya adalah dengan mencari ilmu. Kalau uang bisa habis, tapi kalau ilmu, tidak akan pernah habis,” ujar Tasya.

Sementara bagi Ai Nurhidayat, pendidikan merupakan hal penting dalam mewujudkan gerakan masyarakat untuk mengapresiasi keberagaman di Indonesia. Bersama dengan temantemannya di Dusun Cikubang, Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi Pangandaran Jawa barat, Ai menginisiasi kelas multikultural dan menerima siswa dari seluruh pelosok negeri agar mereka dapat hidup bersama dan membangun koneksi antar ras, suku, agama, budaya serta tingkat ekonomi.

Gerakan ini berawal dari pertemuannya dengan seorang guru yang mengajar di SMK Bakti Karya yang hampir gulung tikar karena muridnya sedikit. Ai dan kawan-kawannya pun berinisiatif menyelamatkan sekolah tersebut dan mengintegrasikannya dengan Komunitas Sabalad pada tahun 2014.

Di SMK Bakti Karya, para siswa dari berbagai pulau di Indonesia belajar tentang multimedia, ekologi hingga 60 materi pokok multikulturalisme yang mengacu pada lima konsep dasar yakni penanaman nilai toleransi, semangat perdamaian, semangat berjaringan, berbudaya dan pembelajaran aktif. Konsep belajar di luar ruangan juga banyak dilakukan oleh para murid SMK Bakti Karya seperti bercocok tanam, aktif dalam kegiatan masyarakat hingga turut berpartisipasi dalam kegiatan tradisi daerah.

Halaman:

Editor: Argo Santoso


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X