Sidang Dugaan Tipu Gelap Jual Beli Kayu di PN Surabaya, Simak Kisahnya

- 1 Juni 2021, 21:34 WIB
Sidang Dugaan Tipu Gelap Jual Beli Kayu di PN Surabaya, Selasa (1/6/2021)
Sidang Dugaan Tipu Gelap Jual Beli Kayu di PN Surabaya, Selasa (1/6/2021) /istimewa

PORTALSURABAYA.COM - Sidang dugaan kasus penipuan gelap yang melibatkan bos PT Daha Tama Adikarya, yakni Imam Santoso. Dalam sidang yang digelar di Ruang Sari Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, ia duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa pada Senin (31/5/2021) siang dengan agenda mendengarkan keterangan 2 saksi.

Saksi yang dihadirkan yakni Sahrudin Sandagang dan Sofyan Kaleb, yang merupakan karyawan PT Daha Tama Adikarya. Dalam keterangan salah seorang saksi, yakni Sofyan Kaleb yang menjabat sebagai Dir Operasional PT DTA mengakui telah mengetahui adanya kerja sama antara Imam Santoso dengan korban, yakni Willyanto Wijaya. Namun, dirinya tak dilibatkan dalam perjanjian itu.

Sofyan mengakui sempat mengetahui adanya jual beli kayu antara terdakwa dengan saksi korban Willyanto Wijaya.

Dalam persidangan di agenda sebelumnya, meski dalam sidang tersebut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Irene Ulfa dan Zulfikar hanya menghadirkan saksi Willyanto Wijaya atau saksi pelapor dan Agus Hernandes selaku saksi fakta, keduanya dinilai bisa mengungkap modus tipu gelap yang dilakukan terdakwa Imam.

Lantas, apa yang menyebabkan alasan dirinya tertarik dengan tawaran tersebut?

Direktur PT Jasa Mitra Abadi, Willyanto Wijaya menjelaskan, alasannya tertarik dengan tawaran yang diberikan terdakwa Imam Santoso lantaran menyatakan dirinya termasuk dalam salah satu pemilik Hotel Garden Palace. Selain itu, terdakwa mengaku mempunyai lahan kayu di Sulawesi Selatan yang belum dipotong serta menyampaikan Rencana Kerja Tahunan (RKT) perihal pemotongan kayu yang dimilikinya sekitar 16.000 kubik.

Terkait penyampaian terdakwa itulah, korban mengaku tertarik. Lalu, dengan disaksikan saksi Rendy dan saksi Agus Hernandes mendatangani kontrak perjanjian yang sudah dibuat oleh terdakwa Imam. Kontrak perjanjian tersebut ditandatangani di Hotel Garden Palace pada 21 September 2017 lalu.

Setelah dugaan penipuan pemesanan kayu itu belakangan dilaporkan ke Polrestabes Surabaya. Berdasarkan laporan itulah, Willyanto mengetahui bila uang pembelian kayu yang sudah dibayarkan digunakan terdakwa untuk mengurus perusahaannya dalam bidang pupuk. "Uangnya dipakai mengurus PT Randoetatah," ujarnya.

Korban mengimbuhkan, modus yang dilakukan terdakwa dengan menyampaikan bahwa kayu berusia 3 bulan sudah siap diangkut. "Lalu saya pesan tongkang. Tapi, nyatanya kayu tidak ada, dia (terdakwa) minta saya bayar dulu tongkangnya, itu uang tongkang bukan uang cicilan," jelas Willyanto dihadapan ketua majelis hakim, I Ketut Tirta.

Halaman:

Editor: Fauzi Rahman

Sumber: Portal Surabaya (PRMN), portalsurabaya.com, portalsurabaya.pikiran-rakyat.com, Portal Surabaya


Tags

Artikel Terkait

Terkini

X