Berdasar Data BPS, 84 Persen Usaha Menengah Kecil Menurun Saat Pandemi

- 16 September 2020, 15:26 WIB
Ilustrasi. Pelaku Usaha Menengah Kecil (UMK) menyelesaikan pembuatan miniatur. Foto: Ahmad Mukti /
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menjatat penghasilan 84 persen pelaku Usaha Menengah Kecil (UMK)  mengalami kemerosotan pada saat masa pandemi Covid-19. Kemerosotan pendapatan tersebut juga dialami oleh 82 persen Usaha Menengah Bawah (UMB).
 
Ketua Badan Pusat Statistik, Suhariyanto menerangkan bahwa kondisi ini didapatkan berdasarkan hasil Survei Dampak Covid-19 yang dilaksanakan pada 10-26 Juli 2020 lalu. Didalam survei tersebut diikuti oleh 34.558 pelaku, yang terdiri dari 6.821 UMB, 25.256 UMK dan 2.482 usaha pertanian.
 
"Akibat penyebaran virus corona, UMK dan UMB merasa terpukul, mereka menyatakan pendapatannya cenderung menurun semenjak adanya pandemi" ujar Suhariyanto saat konferensi pers yang diadakan secara virtual (15/9).
 
BPS menghitung jumlah penurunan pendapatan yang dirasakan dalam sektor akomodasi dan makan minum. Terperinci sebanyak 92,47 persek pelaku usaha di sektor itu mengalami penurunan pendapatan saat pandemi.
 
Kondisi yang sama dialami juga oleh sektor jasa sebesar 90,9 persen serta pelaku transportasi dan pergudangan dengan 90,34 persen. Begitu juga di sektor kontruksi dengan 87,94 persen, sedangkan di pelaku industri pengolahan dengan 85,98 persen dan pelaku usaha perdagangan dengan 84,6 persen.
 
 
Suhariyanto menambahkan, "kalau hasil ini disandingkan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal II yang paling dalam adalah di transportasi dan pergudangan, di mana pertumbuhan ekonominya minus 30,84 persen," katanya.
 
Kemudian diikuti sektor akomodasi dan makan minum dengan pertumbuhan minus 22,02 persen.
 
"Artinya mereka yang terdampak pada kuartal II, pada Juli ini masih alami kesulitan," jelasnya.
 
Kendati begitu, BPS menyatakan ada pula pelaku usaha yang justru berhasil meningkatkan kapasitas produksi meski di tengah pandemi. Sektor usaha yang mencatat peningkatan produksi di tengah pandemi dari masa normal, yaitu makanan dan minuman yang berupa frozen foods, jamu, minuman, penjualan masker, penjualan sepeda, dan jasa layanan internet provider.
 
"Tapi di tengah pandemi covid juga masih ada pelaku usaha yang menginfokan bahwa produknya melebihi kapasitas normal, masing-masing 0,5 persen. Persentasenya kecil tapi di tengah covid mereka justru bergerak dan mendapatkan keuntungan yang lebih daripada masa normal," pungkasnya.**

Editor: Ahmad Mukti


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X